Tampilkan postingan dengan label Arachnid & Insecta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arachnid & Insecta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Semut Daun Yang Kuat


Semut pemotong daun sedang bekerja.
Ciri-ciri khusus semut pemotong daun, yang juga di-sebut "Atta", adalah kebiasaan mereka membawa potongan daun yang mereka potong di atas kepalanya. Semut ini bersembunyi di bawah daun, yang sangat besar dibandingkan ukuran tubuh mereka. Daun ini mereka tahan dengan dagu yang terkatup rapat. Oleh karena itu, perjalanan pulang semut pekerja setelah bekerja seharian memberi pemandangan sangat menarik. Orang yang melihatnya akan merasa seolah lantai hutan menjadi hidup dan berjalan. Di hutan hujan, pekerjaan mereka mengambil sekitar 15 persen produksi daun. Alasan mereka membawa potongan daun tentu saja bukan untuk perlindungan dari matahari. Semut ini juga tidak memakan potongan daun.

Koloni Atta terdiri atas pekerja sebesar butir pasir, prajurit yang beberapa kali lipat lebih besar, dan "pelari maraton" berukuran sedang. Pelari maraton ini berlari membawa potongan daun ke sarang. Semut-semut ini begitu rajin sehingga, jika diukur dengan ukuran manusia, setiap pekerja berlari dengan kecepatan satu mil per empat menit sepanjang 50 km, sambil memanggul 227 kg di bahunya.

Dalam sarang Atta, ada ruang-ruang sebesar kepalan tangan sedalam hingga 6 meter. Pekerja mini bisa memindahkan sekitar 40 ton tanah saat menggali sejumlah besar ruangan dalam sarang mereka yang besar.25 Pembangunan sarang selama beberapa tahun oleh semut ini memiliki tingkat kesulitan dan standar profesionalisme tinggi yang setara dengan pembangunan Tembok Besar Cina oleh manusia.

Selasa, 04 Juni 2013

Alasan Tarantula Memproduksi Benang Melalui Kaki



Menurut para peneliti, Tarantula mengeluarkan benang melalui kaki untuk mencegah agar binatang itu tidak tergelincir ke tempat yang curam. 




Seperti halnya laba-laba lain, tarantula memiliki bulu di kaki. Tapi untuk tarantula besar, bulu bulu itu berfungsi untuk merekatkan diri di permukaan terbatas. Tim peneliti merancang satu uji coba pada tiga tarantula dengan memperhatikan kaki laba-laba yang diletakkan di satu tabung kaca yang digoyang goyangkan. Tes ini bertujuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi bila tarantula merasa tidak aman. Dr. Claire Rindh dari Universitas Newcastle, Inggris mengatakan tidak melihat adanya benang dengan mata telanjang, tapi saat diperiksa melalui mikroskop, terlihat sekitar 30 helai benang sutra di tempat kaki-kaki laba-laba itu tergelincir.
Penelitian berikutnya adalah untuk melihat kalau benang ini keluar dari kaki laba-laba. Uji coba ini menggunakan tarantula asal Meksiko yang dipelihara oleh Dr. Rindh. Melalui mikroskop elektron terungkap bahwa benang sutra laba-laba dilepaskan melalui kaki binatang itu.
Tarantula berganti kulit secara periodik dan Dr Rind mengumpulkan sisa sisa kulit lepas ini. Dengan mikroskop terlihat bahwa ada struktur benang yang keluar dari bulu mikroskopik di kaki-kaki tarantula. Dr. Rindh meneliti tiga spesies tarantula dan menyimpulkan bahwa binatang ini memproduksi benang melalui kaki. Semua tarantula memiliki kemungkinan memproduksi benang dari kaki mereka. Banyak laba-laba modern yang memproduksi sejumlah jenis benang dengan beberapa fungsi.  Tapi Tarantula adalah spesies kuno dan cukup primitif. Binatang ini memproduksi dua jenis benang, satu dari organ khusus yang disebut spinnerets dan satu lagi dari kaki-kaki mereka.

Laba Laba Air



Laba-laba air menghabiskan seluruh hidup mereka di bawah air dan makhluk ini hanya akan muncul ke permukaan untuk mengisi persediaan udara dalam gelembung selam mereka. Tidak ada yang tahu berapa lama laba-laba dapat tetap berada di dalam air sampai ilmuwan Roger Seymour dan Stefan Hetz mengukur level oksigen gelembung serangga itu.
Seymour, ilmuwan dari University of Adelaide, Australia, dan Hetz dari Humboldt University, Jerman, menemukan bahwa gelembung selam itu berfungsi seperti sebuah insang yang mengisap oksigen dari air. Laba-laba itu hanya butuh naik ke permukaan sekali dalam sehari untuk menambah pasokan udara mereka.
Dalam kehidupan di sebuah kolam, banyak ditemukan serangga yang berputar dan bergerak dengan cepat di bawah permukaan air. Namun, hanya satu spesies laba-laba yang bergabung dengan kumpulan serangga itu, yaitu laba-laba gelembung penyelam (Argyroneta aquatica). Menurut Seymour, setiap laba-laba membuat sebuah jaring sutera pada tumbuhan di bawah permukaan air dan mengisinya dengan udara yang dibawa turun pada perutnya. Laba-laba itu menghabiskan seluruh hidupnya di bawah air, bahkan meletakkan telurnya di dalam gelembung selam.
Seymour menggunakan optode, alat pengukur oksigen, untuk menemukan bagaimana serangga akuatik mengekstraksi oksigen dari air melalui gelembung udara tipis yang terentang di perut mereka. Ketika dia mengutarakan kemungkinan itu kepada Hetz, ilmuwan Jerman tersebut langsung memperoleh gagasan dan mengundang Seymour ke laboratoriumnya. Kedua peneliti itu mengumpulkan beberapa laba-laba untuk mengetahui bagaimana mereka menggunakan gelembung selam itu. Dalam Journal of Experimental Biology, mereka melaporkan penemuan bahwa laba-laba dapat menggunakan gelembung selam itu seperti sebuah insang untuk mengekstraksi oksigen dari air agar tetap tersembunyi di bawah permukaan air.

Kawin atau Makan?


Schizocosa Ocreata

Perubahan cuaca dan lingkungan dapat mengakibatkan kelangkaan bahan makanan untuk hewan di alam liar. Dan hal ini ternyata berhubungan dengan kecenderungan pemilihan pasangan dan reproduksi serangga, khususnya laba-laba. Rasa lapar bisa mempengaruhi laba-laba betina dalam memilih pasangan kawinnya. Untuk mengamati sejauh mana rasa lapar mempengaruhi laba-laba betina dalam memilih pasangan beserta tingkat agresivitasnya, para peneliti University of Cincinnati melakukan studi terhadap laba-laba serigala betina (Schizocosa ocreata), jenis laba-laba yang sering ditemui di Kanada dan timur Amerika. Laba-laba serigala betina terkenal mempunyai potensi agresivitas tinggi, bahkan cenderung kanibal saat didekati laba-laba jantan yang ingin memikatnya.
Tiga kondisi laba-laba betina diamati, yang pertama: laba-laba yang cukup makan, yang kedua: laba-laba yang belum terlalu lama kelaparan, dan yang ketiga: laba-laba yang sudah lama kelaparan. Setelah diamati, memang ketiganya menunjukkan perilaku yang berbeda.
Secara umum, laba-laba jantan berbadan besar dengan bulu di kaki yang besar paling diminati laba-laba betina baik yang kenyang maupun yang kelaparan. Laba-laba jantan itu juga diamati lebih terhindar dari kemungkinan dimangsa oleh laba-laba betina jadi kemungkinan peningkatan populasi laba-laba jantan berkualitas yang menarik ini pun akan semakin tinggi. Sedangkan laba-laba jantan berukuran kecil dengan kaki yang pendek berpeluang menjadi korban laba laba betina. Laba-laba yang cukup makan tidak terlalu memperdulikan laba-laba jantan kecil dan akan lebih memilih laba-laba besar sebagai pasangannya. Laba-laba yang belum terlalu lama lapar tidak terlalu tertarik kawin dan sangat agresif terhadap laba-laba jantan kecil. Sementara laba-laba betina yang sudah lama lapar malah suka kawin dan sangat agresif.
Hasil studi yang tercatat menunjukkan laba-laba betina yang lapar mengubah kecenderungannya dengan kawin dengan laba-laba jantan yang disukainya dan memangsa laba laba jantan yang tidak diminatinya. Studi ini memberikan indikasi terhadap apa yang akan terjadi bila perubahan lingkungan mempengaruhi sumber makanan pada populasi hewan sekaligus membawa titik cerah mengenai efek yang mungkin terjadi pada preferensi pemilihan pasangan kawin dalam jangka pendek maupun jangka panjang saat sumber makanan langka serta potensi dinamika populasinya dalam jangka panjang.

Senin, 03 Juni 2013

Avicularia Avicularia, Si Pinky yang Imut



Avicularia avicularia, adalah spesies tarantula asli Amerika Selatan, Costa Rica hingga ke Brasil. Tarantula jenis ini disebut juga dengan pinktoe tarantula karena memiliki ujung jari berwarna merah muda. Tarantula pinktoe muda cenderung memiliki warna tubuh merah muda atau terang dan berkaki gelap, setelah berumur  kurang lebih 4 tahun,  warna tarantula pinktoe akan berubah secara bertahap menjadi berwarna lebih gelap dan memiliki ujung kaki warna merah muda seperti namanya. Tarantula jenis ini sangat jinak, tapi tarantula ini mudah gugup dan tidak tenang kalau dipegang.
Walaupun kebanyakan tarantula bersifat kanibal, tarantula pinktoe lebih toleran terhadap satu sama lain dan ini berarti tarantula pinktoe bisa dipelihara secara berkelompok atau lebih dari satu ekor di dalam kandang. Tarantula pinktoe termasuk jenis arboreal yang pasti membutuhkan habitat yang relatif tinggi dengan banyak cabang kayu atau ranting untuk memanjat.
Pinktoe tarantula bisa dipelihara di dalam kandang yang ukuran luasnya kira kira 5 kali panjang tubuhnya, dan karena pinktoe adalah hewan arboreal, makan diperlukan kandang yang tinggi.
Untuk alas kandang, cocopeat adalah pilihan terbaik karena cocopeat tidak perlu direndam air atau di misting seperti pada perawatan tarantula di luar negeri. Kelembaban di Indonesia sudah sesuai untuk tarantula yang membutuhkan kelembaban 70%. Hindari sinar matahari secara langsung karena tarantula adalah hewan nocturnal.
Untuk makanannya, seperti tarantula lain, pinktoe tarantula adalah pemakan serangga, berikan makanan 1 hingga 2 kali dalam seminggu dan jangan diberi makan setiap hari. Sebelum member makanan baru, buang sisa makanan baik yang hidup atau yang sudah mati. Jangan pernah memberi makanan langsung melalui tangan, tarantula menemukan mangsa lewat getaran dipermukaan tanah. Selain itu, walaupun tarantula tidak sering minum, tetap sediakan mangkuk datar kecil yang berisi air.
Tambahan:
  • Untuk species tarantula yang agresif, bila tarantula sudah mengangkat kaki depan berarti tarantula bersiap siapa akan mengigit, dan jika tergigit, segera cuci tangan. Rasa sakit akan hilang sendiri.
  • Bila species tarantula yang anda miliki adalah spesies burrower yang suka menggali, tambahkan cocopeat ekstra.
  • Tidak perlu membersihkan kandang selama tidak ada kutu, belatung atau jamur.
  • Jika ingin membersihkan kandang tarantula yang agresif, gunakan botol plastic bekas yang sudah dipotong atau gelas plastik untuk mengisolasi tarantula saat akan memasukkan tangan ke kandang. Khusus untuk species burrower, tutup lubang masuk sarang dengan kertas tebal ketika akan membersihkan kandang.
 


Giant Asian Black Scorpions



Kalajengking Asian Forest yang punya nama lain Giant Asian Black Scorpions ini sangat mudah ditemui di hutan hujan tropis, khususnya di wilayah Asia.  Kalajengking ini tersebar dari India dan paling banyak terdapat di Indonesia. Kalajengking Asian Forest bersifat terrestrial, tapi mereka akan hidup di liang bawah tanah hingga batas waktu tertentu. Asian forest yang masih bayi hanya memakan serangga kecil, tapi saat dewasa, kalajengking ini akan memakan jangkrik yang besar atau serangga besar lainnya, bahkan juga akan memakan anak tikus yang baru lahir atau pinkies.
Asian forest scorpion tergolong kalajengking yang menarik, cantik dan sering dikoleksi oleh para penggemar kalajengking. Kalajengking spesies ini adalah pilihan yang cocok bagi mereka yang ingin memelihara kalajengking dengan tingkat agresif yang lebih rendah daripada kalajengking Emperor. Temparamen Asian forest lumayan jinak tapi agak mudah gugup. Sengatan dari kalajengking ini tidak terlalu berbahaya, hanya terasa sedikit lebih kuat dibanding sengatan lebah. Capit kalajengking Asian Forest mirip dengan capit kalajengking Emperor yang besar, tapi badannya lebih ramping. Asian forest dewasa bisa mencapai ukuran 3,5 hingga 5 inci tapi jenis kalajengking ini tidak terlalu cepat tumbuhnya. Kalajengking Asian Forest dapat dipelihara dalam kelompok yang berisi 3 ekor atau lebih dengan pemberian persediaan makanan yang cukup, tapi hal ini tidak dianjurkan. Asian forest membutuhklan suhu udara antara 75 hingga 90° F dengan kelembaban 78 hingga 82%. Sediakan tempat minum yang memiliki pinggiran lebar di dalam kandang walaupun Asian Forest jarang minum.
Jika memelihara asian forest yang masih bayi, cukup tempatkan di wadah plastik yang sudah diberi lubang lubang udara. Asian forest dewasa bisa dipelihara dalam kandang/aquarium yang berukuran 2.5 hingga 15 gallon tergantung dari berapa banyak kalajengking yang dipelihara. Luas kandang lebih penting daripada tinggi kandang. Untuk alas kandang, gunakan tanah biasa atau lumut gambut setinggi 3 hingga 4 inci. Sediakan juga aksesoris dalam kandang yang berupa batu batu kecil, kayu kering, tanaman photos, dll. Selalu sediakan tempat untuk bersembunyi supaya asian forest tidak mudah stress. Lumut dapat dipergunakan untuk menutupi tanah.

Jenis Jenis Kalajengking


Kalajengking, hewan yang selalu diasumsikan sebagai hewan berbahaya ini adalah salah satu jenis arthropoda atau hewan berkaki delapan. Kalajengking masuk dalam kelas Arachnida dan termasuk dalam ordo Scorpiones. Memang seluruh spesies kalajengking mempunyai bisa yang pada sebagian besar spesies kalajengking, bisa ini termasuk sebagai bisa neurotoxin. Kecuali kalajengking spesies Hemiscorpius lepturus, bisa yang dimiliki adalah bisa cytotoxic.
Komposisi bisa neurotoxin kalajengking sendiri terdiri dari protein kecil, sodium dan potassium yang berguna untuk mengganggu transmisi neuro atau syaraf sang korban. Kalajengking menggunakan bisa ini untuk melumpuhkan mangsanya agar mudah dimakan.
Kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia karena sengatan kalajengking hanya mengakibatkan efek lokal seperti rasa sakit & pembengkakan. Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap arthropoda lainnya. Tapi memang ada beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae, bisa membahayakan bagi manusia.
Beberapa spesies kalajengking yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, Tityus (anggota dari genus Parabuthus), Centruroides dan Androctonus. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah spesies Androctonus Australis. Di bawah ini adalah jenis jenis kalajengking yang cukup berbahaya, beberapa diantaranya memiliki bisa yang dapat membunuh manusia:
  • Kalajengking  Death Stalker (Leiurus Quinquestriatus)
Death Stalker
Deathstalker adalah kalajegking yang bersifat terrestrial & tinggal di dalam tanah (burrower). Kalajengking jenis ini berasal dari Timur Tengah & Afrika Utara. Deathstalker dikenal sebagai spesies yang memiliki racun paling mematikan. Kalajengking yang dewasanya berukuran 10 hingga 13 cm ini racunnya adalah campuran dari berbagai racun neurotoxin yang sangat kuat yang dapat menyebabkan rasa sakit yang sangat tidak tertahankan, demam yang diikuti dengan koma, kejang-kejang, kelumpuhan dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Tapi untungnya untuk manusia dewasa yang sehat racun kalajengking ini tidak mematikan walaupun sangat menyakitkan jika tersengat. Bila yang tersengat bisa kalajengking yang sangat agresif ini adalah anak kecil, orang tua dan individu yang lemah (misalnya menderita jantung lemah) hal ini akan beresiko tinggi dan dapat berakibat fatal.
  • Kalajengking  Arabian Fat-tailed (Androctonus crassicauda)
Androctonus Crassicauda
Kalajengking fat-tailed atau Androctonus yang berasal dari Timur Tengah  & Afrika Utara ini adalah salah satu spesies kalajengking paling beracun di dunia. Nama “Androctonus” berarti man-killer atau pembunuh manusia. Diantara seluruh spesies Androctonus mungkin yang paling bahaya adalah Arabian Fat-tailed Scorpion ini, bisa yg dimiliki kalajengking ini dapat menyaingi bisa Deathstalker. Bisa dari spesies kalajengking yang berukuran sekitar 10 cm ini juga terdiri dari neurotoxin. Walaupun temperamennya tidak terlalu agresif, spesies ini bertanggung jawab atas kematian beberapa orang tiap tahunnya
  • Kalajengking Yellow Fat-tailed (Androctonus Australis)
 
Androctonus Australis
Walaupun racun kalajengking ini tidak sekuat Deathstalker atau Arabian fat-tailed, racun yellow fat-tailed juga dapat membunuh seseorang dalam waktu 2 jam bila yang tersengat tidak segera diberi anti venomnya. Ini membuat kalajengking yellow fat-tailed yang hanya berukuran 9 cm ini termasuk jenis kalajengking yang sangat mematikan. Temperamen kalajengking inipun susah ditebak, kadang terlihat agresif & kadang terlihat kalem. Untuk mendapatkan serum kalajengking yang berasal dari Timur Tengah, Afrika Utara & India ini bukan hal yang mudah, bahkan untuk mendapatkan serum kalajengking ini, Amerika Serikat sangat mengalami kesulitan.

  • Kalajengking Black Spitting Thicktail (Parabuthus Transvaalicus)
Parabuthus Transvaalicus
Bisa ditebak dari namanya, kalajengking yang satu ini mendapat julukan Black Spitting Thicktail karena kalajengking dari Afrika yang berukuran dewasa 12 cm ini bisa menyemburkan racun mereka seperti ular kobra. Racun yang disemburkan bisa berjarak hingga 1 meter, dan bila terkena mata dapat menimbulkan rasa yang sangat perih dan kebutaan sementara, tapi perlu dicatata kalu kebutaan sementara ini bisa menjadi permanen jika mata yang terkena racun tidak segera dibersihkan. Kemampuannya yang cukup aneh (menyemburkan racun) untuk jenis kalajengking ini membuat hewan ini dianggap sebagai spesies yang cukup berbahaya, walaupun kadar racunnya tidak tergolong mematikan. Tapi racun yang dimiliki jenis ini akan dapat membahayakan anak-anak dan orang yang memiliki alergi terhadap racun kalajengking ini.

  • Kalajengking Striped Bark Scorpion (Centruroides Vittatus)
Centruroides Vittatus
Seperti kebanyakan kalajengking lainnya, kalajengking yang berasal dari Amerika Utara ini juga gampang ditemukan di sekitar habitatnya. Karena habitatnya yang kadang berdekatan dengan manusia, kalajengking jenis ini cukup merugikan manusia walaupun sebenarnya kalajengking yang berukuran dewasa 5 hingga 7 cm ini tidak terlalu agresif. Sengatannya sangat menyakitkan dan untuk beberapa orang rasa sakit akibat sengatan kalajengking ini dapat bertahan selama 15 hingga 20 menit, tapi tidak jarang ada yang sampai 2 hingga 3 hari. Menurut catatan, kalajengking jenis ini jarang sekali menyebabkan kematian.

Penawar Racun Kalajengking


Sengatan kalajengking bisa membahayakan nyawa, khususnya pada anak-anak dan bayi. Karena sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna, anak anak & bayi akan akan mengalami reaksi yang terparah. Di seluruh wilayah Amerika Serikat, tiap tahun diperkirakan ada 17.000 orang yang tersengat kalajengking khususnya spesies Centruroides yang sangat berbisa. Wilayah paling rawan sengatan kalajengking adalah Arizona, dengan 11.000 orang yang disengat tiap tahunnya. Pada tahun 2009, 17.000 sengatan dilaporkan Poison Arizona dan Pusat Informasi Obat. Sengatan kalajengking dapat menyebabkan reaksi yang bersifat serius seperti sesak napas, masalah pernapasan, penglihatan kabur, cairan pada paru-paru, air liur berlebihan, kesulitan menelan, bicara cadel, kejang otot, hingga kesulitan berjalan. Walaupun tidak semua korban yang tersengat kalajengking tewas, korban sengatan hewan ini seringkali mengalami dampak yang sangat serius, terutama bila korban yang tersengat memiliki alergi terhadap racun kalajengking. Racun kalajengking dapat membuat otot lemah dan sulit dikontrol, sesak napas dan dalam banyak kasus, korban harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan yang lebih lanjut.
Kini, obat terbaru dan pertama untuk penangkal sengatan tersebut tengah dikembangkan di negara Amerika Latin dan telah disetujui oleh FDA. Obat yang diberi nama Anascorp ini berasal dari plasma kuda yang diambil dari beberapa kuda yang pernah mendapat sengatan kalajengking beracun. Sayangnya, reaksi alergi yang serius bisa terjadi pada pasien yang hipersensitif terhadap protein kuda, karena obat ini memang dibuat dari plasma kuda yang diambil dari darahnya. Efek samping yang disebabkan oleh Anascorp termasuk mual, muntah, demam, pilek, ruam, gatal, sakit kepala dan nyeri otot. Reaksi alergi bisa muncul seketika maupun tertunda, tergantung sensitivitas pasien yang menerimanya.
Obat baru ini dinilai lulus uji klinis terhadap 15 anak-anak dengan gejala neurologis akibat terkena sengatan kalajengking. Delapan anak diberi Anascorp dan tujuh anak sisanya diberi plasebo. Delapan anak yang menerima obat menunjukkan kondisi yang membaik hanya dalam waktu empat jam pengobatan, sementara dari ketujuh anak yang diobati dengan placebo, hanya satu anak yang kondisinya membaik. Ini menunjukkan Anascorp, obat buatan Meksiko ini efektif mengurangi risiko kematian dan plasebo tidak menampakkan hasil yang signifikan.
Meski dapat memicu alergi, penawar racun kalajengking yang dibuat dari plasma kuda ini akhirnya disetujui pemakaiannya oleh badan pengawas makanan dan obat atau FDA di Amerika Serikat. Penyetujuan ini dikarenakan hingga saat ini tidak ada obat spesifik yang ditujukan untuk mengatasi sengatan kalajengking. Izin edar diberikan karena tak ada pilihan lain untuk mencegah kematian akibat sengatan kalajengking. Penggunaan obat ini disetujui dengan harapan bisa mengurangi korban yang tewas karena disengat kalajengking.  Ini adalah obat pertama yang disetujui FDA untuk kasus sengatan kalajengking.

Kalajengking Antik


Kalajengking purba yang bernama ilmiah Pterygotus sudah ada pada pertengahan masa paleozoikum, kira-kira 400 juta tahun yang lalu. Walaupun ukuran kalajengking purba ini ngga kira kira gedenya, tapi bentuk kalajengking purba ini lebih sederhana dan berbeda dengan kalajengking modern pada umumnya. Tubuh kalajengking purba ini terdiri dari banyak ruas-ruas yang terlindungi oleh cangkang yang tipis. Walaupun tidak memiliki tulang belakang, Pterygotus memiliki rangka luar yang keras. Perbedaan lain yang sangat jelas tentu saja adalah ukuran tubuh beberapa jenis kalajengking purba yang bisa mencapai 100 kali ukuran kalajengking masa sekarang yaitu 2 hingga 3 meter. Satu perbedaan yang mencolok lainnya adalah kalajengking purba diketahui ternyata juga hidup di air. Dan ternyata, Pterygotus, si kalajengking purba ini hidup di jaman yang sama dengan ikan hiu purba yang memiliki capit bergerigi untuk menangkap mangsanya.

Tarantula Numpang Kereta


Setelah kemarin kemarin ular yang bikin heboh di kereta, sekarang gantian seekor tarantula yang bikin panik penumpang dan  petugas stasiun kereta Berlin, Ostbahnhof.  Juru bicara polisi Berlin mengatakan  awal kejadian ini adalah saat seorang pemuda berkebangsaan Jerman yang berumur sekitar 20 tahunan melupakan dan meninggalkan tasnya di kereta saat pemuda itu kembali dari bandara setelah kembali dari perjalanannya ke Mali & Mozambique .  Saat pemuda tadi melaporkan kehilangan tasnya di bagian Lost & Found, petugas yang menemukan tasnya menyerahkan tas tersebut ke si pemuda. Saat pemuda tadi merogoh tasnya untuk mengambil beberapa tanda pengenal dari dalam tasnya, saat itulah tarantula yang besar merayap keluar dari dalam tasnya.
Ngga tau karena ketakutan atau panik, petugas lalu menyatakan kalau tarantula itu beracun. Padahal  tidak diketahui jenis tarantula apa yang keluar dari tas pemuda itu. Tarantula itu lalu diserahin ke petugas unit perawatan hewan.

Tarantula Aphonopelma



Ada lebih dari 850 spesies dari Tarantula, tersebar dalam berlusin lusin subfamily & hampir 100 genus yang berbeda. Banyak banget kan..? Karena untuk mencakup semua jenis tarantula di seluruh dunia akan jadi tugas yang melelahkan, kita bahas salah satunya dulu deh.. Pernah denger North American Tarantula?  North American Tarantula termasuk dalam genus Aphonopelma. Genus Aphonopelma ini memiliki sekitar 90 spesies tarantula. Tapi sedikit sekali info yang diketahui dari banyaknya tarantula tarantula itu bahkan tidak sedikit yang sama sekali tidak diketahui.
Dari sedikit yang diketahui, seperti tarantula di Afrika, Amerika Selatan & bagian negara lain di dunia, anggota dari genus Aphonopelma tidak memintal benang laba laba. Tarantula jenis ini benar benar memburu mangsa mereka. Tapi ini bukan berati tarantula Aphonopelma kurang mahir dalam memintal jaring laba laba. Tarantula ini hidup di liang liang di tanah dan seringkali membuat sejenis benang untuk ‘alarm’ untuk member tanda adanya gerakan dari mangsa mereka di sekitar rumahnya. Tarantula ini beracun, tapi tentu saja tidak membahayakan untuk manusia karena jika tergigit oleh laba laba ini, rasanya sama seperti seperti disengt lebah.
Aphonopelma Tarantula membangun sarangnya di daerah yang sesuai dengan habitat mereka. Sebagai contoh, laba laba dari Amerika bagian barat daya akan membangun sarangnya di kaki bukit & lembah gurun. Untuk bisa berkembang biak, tarantula jantan akan menyimpan spermanya dengan cara menggosokkan perutnya pada permukaan jaring yang dibuatnya. Lalu tarantula jantan akan mengambil spermanya dengan pedipalp-nya. Pedipalp adalah alat semacam jarum suntik di bagian dalam tambahan seperti tangan kecil. Setelah selesai memindahkan spermanya, tarantula jantan akan memancing taratunla betina dan meletakkan pedipalp-nya ke dalam kantung di dalam perut tarantula betina. Setelah itu, tarantula betina akan mengeluarkan kantung telur yang bisa berisi hingga 2000 laba laba kecil.
Tarantula Aphonopelma bukan termasuk spesies yang terancam punah, walaupun  ini tidak bisa dipastrikan karena kurangnya studi tentang hewan ini. Beberapa spesies dari Aphonopelma seperti A. chalcodes sering dijadikan peliharaan karena sifatnya jinak & kemampuan mereka untuk bisa hidup hingga 20 tahun.

Makanan Dari Satwa Unik


Perburuan laba-laba di Kamboja ternyata sudah dimulai sejak tahun 1970. Salah satunya adalah tarantula yang biasa dijadikan campuran minuman arak beras dan beberapa buah-buahan.  Penduduk Kamboja percaya kalau minuman yang dicampur tarantula ini berfungsi untuk obat kuat atau obat penambah nafsu. Samapi sekarang sih maih banyak turis dari luar daerah yang datang hanya untuk ikut berburu tarantula dan menyaksikan cara pembuatan minuman unik tersebut.  Pembuatannya cukup mudah karena tarantula itu hanya dimasukkan ke dalam minuman hidup hidup hingga tenggelam, hal ini dilakukan untuk menjaga kesegaran tarantula. Tapi selain dibuat minuman, penduduk Kamboja juga menyajikan tarantula yang dimasak dengan cara menggorengnya dan menjualnya di kios kios pinggir jalan. Di Kamboja, tarantula hitam besar yang dimasak ini dikenal dengan nama A-Ping dan merupakan jenis makanan yang terkenal di sebuah desa di utara Phnom Penh, Kamboja.  Desa ini sering disebut dengan spiderville karena banyaknya penjaja makanan berbahan dasar tarantula ini. Biasanya tarantula dijajakan setelah dihilangkan taringnya, di goreng setengah matang lalu dimasak lagi dengan bawang putih, gula, garam dan bumbu-bumbu lainnya sampai renyah dan berwarna kemerahan. Salah seorang turis yang mencoba makanan ini mengatakan  kalau tarantula yang dimakannya rasanya manis dan agak renyah. Walaupun  tarantula bukan serangga, tetap saja masih ada orang yang tidak mau memakannya.
A-Ping
Tak jauh dari Kamboja, yaitu di Vietnam, sebagian besar penduduknya tidak takut untuk memakan semua bagian hewan, bahkan yang lebih aneh dari tarantula. Suku Khmer yang tinggal di Delta Mekong termasuk salah satu pemakan serangga dan laba-laba paling banyak di Vietnam, beberapa suku yang tinggal di pegunungan di sana juga menikmati camilan dari serangga air raksasa dan kalajengking. Yang paling sering dikonsumsi adalah jangkrik, larva lebah dan ulat sutera. Kebanyakan bahan makanan itu digoreng dan diberi bumbu agar ada rasanya sebab serangga serangga tersebut konon  tidak punya rasa.
Sayangnya, beberapa restoran di Vietnam menyajikan hewan liar, bahkan yang terancam punah, dan sebagian besar didapat dengan cara ilegal. Beberapa buku petunjuk dan program televisi banyak yang merekomendasika tempat-tempat ini. Bahkan pernah  salah satu channel TV  yang bernama Travel Channel baru-baru ini harus menyunting ulang liputannya tentang makan makanan ini di episode “No Reservations” dan “Bizarre Foods” karena  tuntutan dari Wildlife Conservation Society. Pasalnya, Travel Channel menayangkan konsumsi hewan hewan liar di Vietnam dan Kamboja dengan tidak memperhatikan masalah lingkungan.
Sebenarnya ada undang undang di Vietnam yang membolehkan peternakan hewan hewan liar untuk konsumsi ini dan diperbolehkan untuk beroperasi jika mereka sudah membayar izin. Tapi kenyataannya banyak peternakan yang mendapatkan daging hewan dari pemburu gelap, termasuk bagian tubuh harimau, cairan hati beruang dan cula badak yang diselundupkan dari Afrika.

Kalajengking


Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan Antarktika.

Karakteristik fisik
Tubuh kalajengking dibagi menjadi dua segmen: cephalothorax dan abdomen. Abdomen terdiri dari mesosoma dan metasoma. Arachnoidea

Racun kalajengking
Semua spesies kalajengking memiliki bisa. Pada umumnya, bisa kalajengking termasuk sebagai neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa sitotoksik (racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah dimakan.

Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap artropoda lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Androctonus australis.

Asal-usul kalajengking
Kalajengking purba muncul pada pertengahan Masa Paleozoikum, kira-kira 400 juta tahun yang lalu. Berbeda dengan kalajengking pada umumnya, bentuk kalajengking purba lebih sederhana. Tubuhnya terdiri dari banyak ruas-ruas yang terlindung cangkang tipis. Perbedaan lainnya adalah ukuran tubuh beberapa jenis kalajengking purba yang mencapai 100 kali ukuran kalajengking masa sekarang, 2 hingga 3 meter. Selain itu, kalajengking purba juga hidup di air.

 Kalajengking hutan Asia (Heterometrus spinifer) di TN Khao Yai, Thailand.
Kalajengking hutan Asia (Heterometrus spinifer) di TN Khao Yai, Thailand.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan    :     Animalia
Filum         :     Arthropoda
Upafilum   :     Chelicerata
Kelas         :     Arachnida
Upakelas   :     Dromopoda
Ordo          :     Scorpiones

Superfamilia
Pseudochactoidea
Buthoidea
Chaeriloidea
Chactoidea
Iuroidea
Scorpionoidea



 Kala Androctonus crassicauda

Cara Memiilih Tarantula


Sebelum membeli Tarantula, pastikan kalo tarantula yang akan dibeli ngga cuma diam di tempat aja, kalo perlu, sentuh sedikit. Kalo disentuh cuma bergerak sedikit atau pelan sekali responnya apalagi kalo sampe seluruh kaki kakinya yang ada 8 itu ketekuk ke dalem atau di bawah badannya, bisa jadi tarantula tersebut sedang sekarat. Penyebabnya bisa jadi cuma karena masalah sepele seperti haus dan mengalami dehidrasi. Perhatikan apakah perutnya mengecil atau keriput dan perhatikan juga apakah ada tempat air minum di dalam kandangnya. Dengan kondisi cuaca tropis di Indonesia yang tingkat kelembabannya cukup tinggi sebenarnya ngga terlalu sulit buat miara tarantula. Tarantula membutuhkan hawa yang cukup lembab untuk bertahan hidup, jadi kandangnya jangan sampe kering atau gersang dan jangan lupa kalo mereka juga masih tetap perlu air minum. Di alam liar, tarantula mendapatkan cairan dari dalam tubuh mangsanya, udara yang lembab, tetesan embun dan juga air hujan. Untuk mengakalinya gampang banget, tapi harus sering sering dikerjakin biar tarantula panjang umur . Cukup sediakan tutup bekas botol plastik agar tidak karatan sebagai tempat air minum yang sekaligus juga dapat menciptakan efek lembab dalam kandang tersebut. Atau, gunakan teknik misting yaitu menyiram air secara perlahan ke subtrat supaya tetap basah untuk jenis Terrestrial atau burrowers tapi jangan sampai becek atau air bisa disemprotkan langsung ke jaringnya untuk jenis Arboreal atau tree climbers untuk menimbulkan efek embun buatan. Tanyain sekalian nama ilmiah atau nama latin dari tarantula tersebut biar kita gampang nyari caresheetnya di internet, karena tiap jenis mempunyai karakter dan cara hidup yang berbeda beda. Kalo bisa tanyain juga jenis kelamin dari tarantula tersebut apakah jantan atau betina karena betina rata-rata memiliki umur dua kali lipat lebih lama dari tarantula jantan.

Cara menghandle tarantula

Sebenarnya sangat tidak dianjurkan sama sekali untuk memegang tarantula dengan alasan apapun. Tapi pada umumnya, pemilik tarantula merasa perlu mengakrabkan diri dengan hewan peliharaannya dengan cara memegang tarantula peliharaannya. Tapi sebenarnya tarantula akan merasa sangat tidak nyaman. Tarantula adalah binatang liar dan sama sekali tidak membutuhkan sentuhan kasih sayang dari manusia. Bagi tarantula semua yang mendekati mereka dianggap sebagai ancaman atau buruan. Tapi kalo sampe mau coba coba pegang juga, gunakan kedua tangan dan jangan pake alat apapun. Perlu diingat kalau untuk tarantula jenis terrestrial, bila jatuh bisa menyebabkan perut pecah atau kaki kakinya patah. Sedangkan untuk jenis Arboreal, begitu lepas dari genggaman tangan anda, berani jamin sudah pasti bakal susah ditangkep lagi karena jenis Arboreal adalah pelari cepat dan sangat gesit sekali. Dan yang paling penting, jangan lupa cuci tangan setelah memegang tarantula. Semua jenis Tarantula memiliki racun sebagai jurus akhirnya untuk membela diri pada saat tarantula merasa benar benarterpojok, sekaligus untuk melumpuhkan lawan dan buruan yang ukurannya jauh lebih besar dari tarantula tersebut dengan cara menggigitnya. Beberapa spesies tarantula mempunyai bisa yang lebih kuat, tapi pada umumnya rasanya jika tergigit tarantula tidak jauh beda dengan disengat lebah, tapi bagi mereka yang gampang alergi, gigitan tarantula bisa menyebabkan sesak nafas atau detak jantung yang berdetak sangat cepat. Dunia Tarantula terbagi atas 2 bagian, yaitu Old World (Asia, Afrika, Eropa dan Australia) dimana spesies dari benua ini gampang banget atau tidak pernah ragu ragu dalam melancarkan gigitan untuk setiap ancaman. Dan yang kedua adalah tarantula New World (Amerika Utara dan Selatan) dimana alat pertahanan pertama tarantula ini sebelum menggigit adalah Urticating Hairs atau mengibaskan bulu bulu halus di perutnya ke udara yang bisa menyebabkan gatal gatal dan menyebabkan ruam merah pada kulit si pengganggu waluapun gatalnya tidak separah kalo kena ulat bulu. Dan yang paling penting, jangan lupa cuci tangan setelah memegang tarantula. Semua jenis Tarantula memiliki racun sebagai jurus akhirnya untuk membela diri pada saat tarantula merasa benar benarterpojok, sekaligus untuk melumpuhkan lawan dan buruan yang ukurannya jauh lebih besar dari tarantula tersebut dengan cara menggigitnya. Beberapa spesies tarantula mempunyai bisa yang lebih kuat, tapi pada umumnya rasanya jika tergigit tarantula tidak jauh beda dengan disengat lebah, tapi bagi mereka yang gampang alergi, gigitan tarantula bisa menyebabkan sesak nafas atau detak jantung yang berdetak sangat cepat. Dunia Tarantula terbagi atas 2 bagian, yaitu Old World (Asia, Afrika, Eropa dan Australia) dimana spesies dari benua ini gampang banget atau tidak pernah ragu ragu dalam melancarkan gigitan untuk setiap ancaman. Dan yang kedua adalah tarantula New World (Amerika Utara dan Selatan) dimana alat pertahanan pertama tarantula ini sebelum menggigit adalah Urticating Hairs atau mengibaskan bulu bulu halus di perutnya ke udara yang bisa menyebabkan gatal gatal dan menyebabkan ruam merah pada kulit si pengganggu waluapun gatalnya tidak separah kalo kena ulat bulu.  Bila benar benar diperlukan untuk membersihkan kandangnya atau mengganti substrat, maka cara yang paling gampang adalah dengan menaruh kotak yang lain di dalam kandang dan menggiring tarantula secara lembut dan perlahan-lahan ke arah kotak tersebut. Boleh menggunakan sumpit, pulpen atau apaun asalkan bukan benda tajam. Setelah tarantula masuk ke kotak, tutup kotak tersebut supaya tarantula ngga kabur dan pastikan ada lubang di sekeliling kotak supaya tarantula bisa bernafas. Setelah selesai membersihkan kandangnya, masukkan kembali kotak berisi tarantula ke dalam kandang, buka tutupnya dan biarkan tarantula keluar dengan sendirinya. Gampang kan..?

Minggu, 02 Juni 2013

Giant Vinegaroon Si Kalajengking Unik




Giant Vinegaroon adalah spesies whipscorpion yang memiliki pertahanan yang sangat luar biasa. Nama Giant Vinegaroon diberikan karena binatang unik ini mengeluarkan cairan asam untuk menakut nakuti predator atau musuh yang mengganggunya.  Giant Vinegaroons tidak bisa menyengat tapi giant vinegaroon memiliki ekor panjang yang mirip dengan cambuk. Ekor ini tidak digunakan untuk menyengat seperti pada kalajengking.  Orang awam sering mengira kalau giant vinegaroon ini serangga karena mereka terlihat seperti serangga yang memiliki 6 kaki dan sepasang antena. Tapi pada kenyataannya, antena yang terletak di bagian depan adalah kakinya yang panjang dan termodifikasi. Semua jenis whipscorpions tidak berbisa. Mereka aman untuk dipegang, meskipun penanganan pada semua jenis whipscorpion tidak dianjurkan. Giant vinegaroon adalah jenis arakhnida yang terlihat menyeramkan tapi giant vinegaroon jarang terlihat di alam liar karena bersifat nokturnal.
Giant Vinegaroons memiliki bagian mulut yang besar (pedipalpus) yang berbentuk seperti penjepit. Hewan dari ordo uropygi ini memiliki sepasang kaki depan yang panjang dan tipis dan digunakan seperti antena untuk merasakan keadaan di sekitar. Tiga pasang kaki berikutnya digunakan untuk berjalan. Bentuk perut menempel ke daerah thorax-kepala (cephalothorax).  Ekornya panjang dan tipis dan ini menunjukkan darimana nama “whipscorpion” berasal. Giant Vinegaroons memiliki sepasang mata di depan cephalothorax dan tiga pada setiap sisi kepala, dimana pola ini juga ditemukan pada kalajengking. Giant Vinegaroons hampir semua berwarna hitam. Tubuh Giant Vinegaroons dewasa panjangnya berukuran  1 ½ hingga 3 inci. Giant Vinegaroons ditemukan terutama di daerah Texas Barat hingga ke daerah selatan Texas.
Giant Vinegaroons adalah karnivora, makan di malam hari dan memburu terutama serangga, lipan dan terkadang juga cacing dan siput. Giant Vinegaroons juga memakan invertebrata kecil. Mangsa Giant Vinegaroons  dihancurkan di antara gigi khusus pada bagian dalam trochanters (segmen kedua kaki dari kaki depan). Giant Vinegaroons sangat ahli dalam mengendalikan populasi kecoak dan jangkrik liar J.
Pada system reproduksi, Giant Vinegaroons  Jantan mengeluarkan kantung sperma yang ditransfer ke Giant Vinegaroons betina. Telur yang berjumlah hingga 35 butir diletakkan di dalam liang dalam suatu selaput lendir yang melindungi kelembabannya. INduk Giant Vinegaroons tinggal dengan telur dan tidak makan selama dia menjaga telur telurnya itu. Bayi Giant Vinegaroons  yang menetas dari telur akan naik ke punggung induk mereka dan menempel di sana dengan pengisap khusus. Setelah meranggas pertama mereka akan mulai meninggalkan liang, dan sang induk akan meninggal setelah itu. Bayi Giant Vinegaroons tumbuh perlahan lahan dan akan melalui tiga molts dalam waktu sekitar tiga tahun sebelum mencapai usia dewasa. Jangka hidup Giant Vinegaroons bisa sampai empat tahun.
Habitat Giant Vinegaroons adalah di daerah daerah tropis, subtropics dan daerah kering dan panas. Giant Vinegaroons biasanya menggali liang bawah tanah dengan pedipalpus mereka yang mereka gunakan juga untuk mengangkut mangsanya. Giant Vinegaroons juga dapat menggali di bawah kayu, kayu kayu yang membusuk, batu dan puing puing alam lainnya. Giant Vinegaroons sangat menyukai kondisi yang gelap, tempat tempat lembab dan umumnya mereka selalu menghindari cahaya.




 

Spesies Baru Laba Laba Gua


Tim penelitian yang dipimpin oleh Cahyo Rahmadi, seorang ilmuwan dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan spesies laba laba baru di tiga buah gua di Pegunungan Menoreh yang membentang di barat laut Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Spesies laba laba baru tersebut ditemukan oleh salah seorang penelusur gua yang bernama Sidiq Harjanto dari Matalabiogama Universitas Gadjah Mada yang ikut bergabung bersama tim peneliti.
Ketua tim peneliti mengatakan spesies laba laba baru tersebut memiliki ciri ciri tubuh berwana putih pucat, mata yang mengecil hingga terlihat memiliki bintik bintik di bagian depan kepala yang sebenarnya adalah matanya, kaki kaki yang memanjang dan kaki kaki ini lebih panjang dibandingkan dengan  jenis laba laba lain dari luar gua. Spesies pertama ditemukan Sidiq pada tahun 2008, tapi untuk studi taksonomis, akhirnya diambil dua spesimen laba laba lagi.
Studi tentang spesies laba laba baru ini dilakukan di Jepang dan bekerja sama dengan seorang pakar laba laba dari Slovenia bernama Dr. M Kunte dan juga Dr. Jeremy Miller dari Naturalis Museum, Leiden, Belanda. Dari hasil studi tersebut diketahui bahwa laba laba yang ditemukan Sidiq adalah memang laba laba spesies baru. Penemuan ini akan segera dipublikasikan di jurnal nternasional. Laba laba gua ini termasuk dalam famili Ctenidae dan termasuk dalam marga Amauropelma. Walaupun penempatan marga untuk laba laba ini dirasa belum terlalu tepat, tapi laba laba gua tersebut memiliki kecocokan yang paling mirip dengan marga Amauropelma.
Marga Amauropelma sendiri memiliki sebaran utama di Australia. Dan penemuan laba laba ini di Jawa Tengah adalah temuan baru. Ini membuktikan kalau gua karst di Jawa merupakan ‘gudang’ spesies baru yang perlu diekplorasi dan diungkap kekayaannya. Ilmuwan LIPI yang mengaku telah menemukan beragam spesies baru tersebut mengatakan banyak temuan menarik yang ditemukan selama dia menyusuri gua gua dari Banteng hingga Tuban, bahkan sampai Pulau Madura. Tapi sayangnya, habitat untuk spesies spesies baru di gua karst ini terancam oleh pembukaan pabrik semen baru di beberapa kawasan di sekitarnya. Hal ini tentu saja mengancam spesises yang ada di sana dan sangat diperlukan pengelolaan kawasan karst yang baik sehingga potensi biologi, hidrologi dan potensi yang lainnya tetap bisa dipertahankan.

Laba Laba Cantik tapi Beracun

Laba Laba banyak memberikan kontribusi yang tak terhitung untuk ekosistem di bumi. Laba laba membantu membersihkan populasi serangga berbahaya, menjaga tanaman dan hewan yang penting. Jaring laba laba atau sutra yang dihasilkan laba laba dapat dimanfaatkan atau diaplikasikan untuk berbagai macam peralatan di bidang militer dan industri untuk manusia. Memang tidak semua laba laba berbisa, tapi berikut ini adalah beberapa jenis laba laba yang gigitannya paling mematikan.
  • Laba Laba Brown Recluse, laba laba kecil ini punggungnya menyerupai bentuk biola. Racun dari laba laba Brown Recluse menyebabkan bengkak dan bentol. Gigitannya memang tidak terasa sakit, tapi yang mengerikan, bentolan bekas gigitannya itu akan membusuk dan terlepas dari bagian tubuh korban yang digigitnya. Ugh, kebayang deh kalo yang digigit bagian idung, berubah jadi Sule deh..

  • Laba Laba Funnel Web, laba laba ini berasal dari Australia. Laba laba funnel web  yang jantan berwarna hitam atau coklat mengkilap. Laba laba ini memiliki cara yang unik dalam menyerang musuhnya, laba laba ini akan berdiri dengan kaki belakangnya lalu memperlihatkan taringnya. Laba laba ini juga memiliki racun neurotoksik dan gigitan mereka dapat menyebabkan tidak terkontrolnya air liur, berkeringat, kejang kejang dan air mata yang keluar terus menerus. Bahkan menurut penduduk setempat, hanya dengan melihatlaba laba ini saja, kamu bisa mengeluarkan air mata. Wih, sakti nih laba laba..!

  • Laba Laba Red Back, sudah bisa ditebak dong, laba laba red back pasti mendapatkan namanya dari penampakannya. Laba laba Red back memiliki punggung yang berwarna merah cerah. Laba laba ini juga bisa ditemukan di  seluruh penjuru Australia. Laba laba Redback betina biasanya berwarna hitam dengan jejak merah dan memiliki garis oranye di bagian punggung. Laba laba red back memiliki racun jenis neurotoksin. Bila tergigit dapat menyebabkan otot otot yang melemah, mual berkepanjangan, muntah dan berkeringat, bahkan bisa mengakibatkan hal yang fatal seperti kelumpuhan dan kematian.

  • Laba Laba Brazilian Wandering, laba laba ini bisa ditemukan di hutan hutan di Amerika Selatan. Laba laba jenis ini sangat mudah gugup dan sangat agresif. Gigitan laba laba ini sangat menyakitkan karena laba laba jenis ini akan melepaskan serotonin ke aliran darah korbannya. Serotonin bisa mematikan dengan efek seperti overdosis pada pamakaian narkoba.

  • Yang satu ini adalah laba laba yang paling terkenal karena keindahannya sekaligus karena bisanya yang sangat jahat, The Black Widow. Laba laba ini sering disebut sebut sebagai laba laba yang paling mematikan. Laba laba hitam mengkilap ini dapat ditemukan di Amerika Utara. Racun neurotoksin laba laba ini menimbulkan rasa sakit yang amat sangat, Setelah tergigit, akan terlihat dua tanda taring yang jelas di bekas gigitannya. Gejala gejala gigitannya termasuk rasa sakit di perut dan punggung, kram otot perut, kesulitan bernapas yang mengakibatkan gagal pernafasan, tekanan darah tinggi, kegelisahan dan jika tidak segera diberi pertolongan korban akan mati.

Kenapa Laba Laba Berkaki Banyak?



Pernah ngga bertanya tanya kenapa laba laba punya banyak banget kaki..? Para ilmuwan mungkin sudah menemukan jawaban kenapa laba laba memiliki kaki yang banyak dan kenapa laba laba memiliki kaki lebih dari yang mereka butuhkan .

Dalam hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Naturwissenschaften, para peneliti menyimpulkan kaki kaki yang berlebih itu adalah sebagai kaki cadangan. Para peneliti mengumpulkan data bahwa 10 persen dari seluruh laba laba di alam memiliki kaki tidak lengkap. Paling tidak mereka kehilangan salah satu dari delapan kaki mereka.  Hal ini dijelaskan oleh Alain Pasquet, dari University of Nancy 1 Perancis yang terlibat dalam penelitian tersebut.
Lebih lanjut Pasquet dan rekannya ingin mengetahui efek kehilangan kaki pada laba laba. Kemudian tim peneliti ini mengumpulkan 123 ekor laba laba Zygiella x notata, 60 ekor memiliki delapan kaki alias lengkap, sementara 63 ekor sisanya kehilangan satu atau beberapa kaki. Setiap laba laba diberi kotak sendiri sehingga laba laba tersebut dapat membuat sarang. Pasquet dan timnya mendapati bahwa jaring yang dibuat laba laba berkaki tak lengkap tidak berbeda dengan jaring buatan laba laba berkaki lengkap.
Test selanjutnya, para peneliti meletakkan lalat di dalam kotak untuk melihat kemampuan berburu laba laba yang kekurangan kaki. Hasilnya, laba laba cacat tersebut tetap memiliki kemampuan berburu dan memangsa yang sempurna. Para peneliti sempat heran karena mereka berharap kehilangan kaki pada laba laba berpengaruh pada kemampuan mereka untuk berburu. Tapi nyatanya tidak sama sekali.
Berdasarkan penemuan ini, peneliti menganggap laba laba memiliki kaki dalam jumlah yang melebihi keperluan mereka. Jumlah kelebihan ini menjadi keuntungan saat salah satu atau beberapa kaki mereka dirusak pemangsa. Para peneliti juga mendapatkan batas maksimal dari jumlah kaki yang “boleh” hilang. Para peneliti ini meneliti laba laba yang hanya memiliki lima kaki dan setelah diamati di laboratorium, laba laba tersebut membangun jaring dengan berantakan dan tidak teratur.

Laba laba albino


Para peneliti di Australia menyatakan telah menemukan spesies baru laba laba albino di Negara tersebut. Laba laba tersebut memiliki kepala putih serta kaki yang berwarna coklat dan hitam.
Dr Mark Harvey, kurator Museum Australia Barat yang juga terlibat dalam penelitian ini mengatakan, adanya keunikan pada bagian pedipalpus dan kaki depan laba laba albino yang mengindikasikan bahwa laba laba yang ditemukan ini adalah spesies laba laba yang baru. Pada umumnya, laba laba memiliki empat pasang kaki. Pedipalpus adalah bagian mirip kaki yang membesar yang terletak di dekat mulut dan berfungsi untuk membantu perkawinan. Kaki depan laba laba berfungsi untuk mengangkat tubuhnya.
Dengan membandingkan ukuran dan jumlah duri kecil pada struktur pedipalpus dan kaki belakang dengan laba laba berkepala putih lainnya, hasilnya menunjukkan adanya cukup bukti untuk mengatakan laba laba ini adalah spesies baru.
Harvey mengatakan bahwa rentang habitat laba laba albino itu sangat sedikit dan sudah digerus oleh konversi lahan. Laba laba ini membuat liang yang memiliki penutup jebakan. Penutup ini kadang sulit dilihat dan laba laba sulit dideteksi tanpa melakukan pengamatan yang cermat. Ketika laba laba jantan telah dewasa, mereka akan pergi meninggalkan liang untuk mencari pasangan. Laba laba yang berwarna aneh tersebut hingga sekarang belum dinamai. Ada yang punya ide buat namanya..?